BLOG AWARDEE

Cerita Lengkap Perjalanan Awardee

Semua kisah inspiratif tentang perjuangan meraih mimpi.

Rina

"Gagal 3 Kali, Lolos di Percobaan Ke-4"

Rina, Awardee LPDP ke UCL

Saya hampir menyerah setelah gagal di tahap substansi. Rasanya dunia runtuh ketika mendapatkan email penolakan untuk ketiga kalinya. Saya mulai mempertanyakan kemampuan diri sendiri, apakah saya memang tidak layak untuk mendapatkan beasiswa ini? Setiap malam dipenuhi dengan overthinking dan rasa kecewa yang mendalam. Namun, pertemuan dengan mentor Edensor mengubah segalanya. Beliau tidak hanya merevisi essay saya, tetapi juga membangkitkan kembali kepercayaan diri yang sempat hilang. Kami membedah setiap kegagalan sebelumnya, mencari celah yang terlewat, dan menyusun strategi baru yang lebih matang. Latihan interview dilakukan berulang kali hingga saya benar-benar siap dan percaya diri menjawab setiap pertanyaan penguji. Akhirnya, doa dan usaha keras itu terjawab. Di percobaan keempat, nama saya tercantum sebagai salah satu awardee LPDP. Tangis haru pecah, bukan hanya karena lolos, tapi karena saya tidak menyerah. Terima kasih Edensor yang telah menemani perjalanan panjang ini hingga saya bisa melangkah ke UCL.

Baca Kisah Rina
Budi

"Dari Kampung ke Ivy League"

Budi, Awardee AAS ke Monash

Bahasa Inggris saya pas-pasan. IELTS cuma 5.5 saat pertama kali tes. Rasanya ingin mengubur mimpi kuliah di luar negeri karena syarat minimal kampus tujuan adalah 6.5. Saya berasal dari kampung di mana akses belajar bahasa Inggris sangat terbatas, dan rasanya mustahil untuk mengejar ketertinggalan itu dalam waktu singkat. Tapi saya ingat pesan orang tua, 'kalau orang lain bisa, kamu juga pasti bisa asal mau berusaha lebih keras'. Saya memutuskan bergabung dengan program intensif di Edensor. Selama 6 bulan, hari-hari saya diisi dengan drill soal, listening, speaking practice, dan feedback rutin dari tutor yang sangat sabar. Tidak ada hari libur bagi saya, fokus hanya satu: menaklukkan IELTS. Hasil tidak mengkhianati usaha. Di tes kedua, skor saya melesat. Bahkan cukup untuk mendaftar beasiswa AAS. Perjuangan panjang dari kampung halaman akhirnya membawa saya ke Monash University. Ini bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang jika kita punya tekad yang kuat dan mentor yang tepat.

Baca Kisah Budi